Kamis, 22 Agustus 2013

PULAU SEMPU

Malang.. Malang.. Malang!!!


Ini tentang berlibur yang direncanakan. berawal dari obrolan iseng sore-sore bersama tirto dan ibnu. Ini rencana kita menuju Malang, tetap tujuan utama kita ke Malang yaitu Gunung Bromo. Yang terlintas di pikiran tentang Malang menurut saya itu, ya gunung bromo. Jadi ke Malang kalau gak ke bromo berarti belum ke malang walaupun masih banyak sekali tujuan wisata disana. Jadi, klo ke Malang diharuskan ke Bromo itu wajib hukumnya. :D
Sedikit gambaran rencana ke Bromo. Ke Bromo lebih sedap kalau kita berangkat tengah malam jadi incaran kita pergi kesana untuk menikmati sunrise yang ditawarkan Bromo untuk suatu pesona keindahannya.
eits tapi sebelum ke Bromo, kita masih punya yang namanya Pulau Sempu. Apa itu Pulau Sempu? *SearchGoogle*
maka temukanlah jawabannya.


sampai dengan selamat di stasiun kota baru, Malang.

apa sih pulau sempu? ada apa sih disana? mungkin gak banyak yang tau tentang destinasi kesana. kalau bukan orang malang pasti mayoritas berasumsi kalau suatu saat liburan ke malang ya pasti ke Bromo.
tapi.. Bromo bukanlah satu-satunya primadona wisata di Malang.
maka cobalah untuk mengeksplor malang lebih luas lagi dan cobalah ke Pulau Sempu.

Ada segara Anakan di Pulau Sempu
Disini kita disuguhkan perjalanan (trekking) yang nanti kita dpt nikmati momen-momen kebersamaan dalam menempuh jalan menuju Segara Anakan.
menurut saya, trekking inilah yang gak kalah menarik sblm kita dapat menikmati danau/samudera hindia yang sangat menawan.
Pulau Sempu ini terletak di selatan malang masih di kabupaten Malang. Jadi, lumayan menjauh dari kota lalu menyebrang ke pedesaan. Merepotkan kita jika tidak memiliki transportasi. Perjalanan kesana itu ketika sudah tercium aroma-aroma pedesaan yang terus menanjak mulai disitulah jalanan mulai sepi, padahal pada waktu itu siang hari. Apabila malam hari setelah isya mending mikir 2 kali untuk melintas ke daerah tersebut. Karena katanya mendingan melintas di daerah tersebut dini hari selepas warga kampung tersebut untuk meramaikan jalanan untuk berbelanja ke pasar karena rumah warga setempat sangat jauh keberadaannya dengan pasar. Tapi tetap saja malam hari lewat sini menantang adrenaline saat menyusuri sepi kesunyian malam. kata orang sana sih gitu..

Tujuan kita adalah ke Pantai Sendang Biru yaitu dermaga pelabuhan yang nantinya kita akan menyewa kapal yang akan menyeberangkan kita di Pulau Sempu yang tidak jauh dari dermaga. kita harus meminta izin dahulu untuk masalah keamanan dan penyewaan kapal untuk menyeberang dengan biaya 100Ribu pulang-pergi, mau 1/10 Orang dikenakan biaya yang sama aja.

pantai sendang biru
Pada saat di pelabuhan sebelum menyebrang ke pulau untuk trekking ke Segara Anakan itu sudah di temani gerimis lalu pas ditengah perjalanan semakin deras.
pantai sendang biru
Oke saya jelaskan sedikit apa itu segara anakan. Segara Anakan adalah danau air asin yang dijepit antara tebing-tebing yang luas dan menjulang tinggi. Karena dibalik tebing-tebing tinggi tersebut ada samudera hindia.  Terbentuknya danau ini karena ada celah bolongan dari tebing yang menghantamkan ombak dari samudera hindia secara terus menerus mengalirkan air-nya hingga membentuk danau air asin yang alami ini. Sebut saja pintu masuk air antara samudera hindia ke segara anakan.
Waktu itu kami gak ada sama sekali gambaran perjalanan seperti apa. Tak disangka sangka jalanan yg kami tempuh sangatlah tidak sehat karena hujan sehingga membuat sepanjang jalan menjadi kubangan lumpur dan licin. Dan pada saat itu saya  gak memakai sepatu (yang disewakan), jaket, jas hujan, senter. Padahal waktu itu perjalanan baru dimulai sekitar jam 5 sore. Boleh dikata modal nekat!
Sesampainya di tepi pulau tempat berlabuh Saya udah basah kuyup. Namun sebelum start, kita makan terlebih dahulu bersama anak unj pariwisata yang tidak disangka-sangka dapat memuluskan perjalanan Pulau Sempu kita ini. setelah makan tidak lama-lama kita langsung bergegas. Bismillah..~


Awalnya masih penuh semangat dan penasaran menelusuri jalanan karena msh mempunyai tenaga dan belum merasa bosan. Dan ketika kita merasa capek pasti rasa bosan pun ikut menemani. Namun, rasa penasaran akan segara anakan menepis semua itu, kami harus terus bergerak dan berjalan dengan semangat karena kondisi sudah gelap dan menyulitkan meraba jalanan yang licin beserta kubangan lumpur disetiap pijakan. Benar-benar perjalanan yang tidak sehat namun memacu kita untuk menembus semua itu demi panorama 'segara anakan'.
jadi kita sekelas cuma 14 orang aja yang berlibur ke malang. Cewek 5 cowok 9.
ana, andin, amo, novia, muty.
Bayu, heri, septian, tirto, hasan, trian, erwin, khairul, dan saya sendiri.
Saya sangat salut kepada anak cewek yang trekking di Pulau Sempu ini karena trek ini jauh banget dari perkiraan mereka tapi mereka terus bersemangat untuk menantang perjalanan ini. Padahal saya rasa mereka tidak biasa dengan perjalanan seperti ini ditambah kondisi cuaca yang buruk dan gelapnya malam. Kalian juara!

Kurang lebih jam 10an kita sampai di segara anakan. Saya bersama tirto septian heri ewin dan efd(unj pariwisata) terpisah karena ikut menunggu bersama rombongan yang bukan kelompok (Unj akun & Unj pariwisata) akibatnya kita sampai ke segara anakan paling terakhir. Detik-detik akhir perjalanan kondisi jalan sudah di posisi kiri tepi tebing dan posisi kanan itu udah danau. Kami sedang berada di jalan setapak diantara tebing yang curam yang dibawahnya danau. Terdengar suara teman-teman yang sudah sampai dan meneriakkan suara kebebasannya memaksa kami untuk terus berjalan menyusulnya. Apalagi teman yang memanggil-manggil dari bawah danau memaksa kami untuk menyusul mereka kesana. Kalau bukan karena bawa banyak barang sih saya bisa langsung terjun ke danau lompat dari tepi tebing. Tapi serem juga sih, nggak jadi~
Tidak lama-lama akhirnya kita (rombongan terakhir) sampai juga di segara anakan. Tapi, belum cukup puas dengan panorama yang hanya dilihat dengan terangnya bulan dan bintang, namun hanya mampu menikmati suara ombak yang tenang dan perpaduan bintang & rembulan, cukup untuk malam ini.
Badan yang telah berlulur lumpur memaksa kami untuk langsung terjun ke danau  untuk membilas diri sekedar membersihkan. Pakaian basah dan kering kembali, pada saat itu memang sudah biasa. Begitulah seterusnya.

Namun ada permasalahan lain bukan hanya sekedar pakaian saja, ternyata kelompok kami tidak ada satu pun yang mengerti memasang tenda dan akhirnya kita pun sekali lagi merepotkan kelompok unj pariwisata untuk mengajarkan cara untuk memasang tenda.
1 tenda terpasang hasil dari unj pariwisata, sekarang sisa 2 tenda yang harus kita pasang sendiri. Ya tapi saya gak ikut serta dalam pembuatan tenda karena ada urusan lain. hehe.. ^o^v

sebagian dari kita mulai memasuki tenda dan langsung tidur apalagi semua anak cewek. sisanya Kami berlima masih ingin panjangkan cerita malam itu dengan obrolan tenang dan sedikit candaan, menunggu terbenamnya mata dan dipaksa menyerah pada malam itu.
Benar malam itu sekitar hampir 2 jam-an kita menyerah karena mengingat kita harus pulang jam 6 pagi sedangkan pada wktu itu sudah jam 2. Tapi menurut saya gak mungkin jg jam 6 berangkat lagi, pastilah ada ngaret-ngaretnya jam. Lalu, terpejamlah mata.

Perasaan baru 5 menit terpejam, kenapa sudah terang lagi aja dan pada waktu itu sudah banyak aktivitas suara yang terdengar. Benar saja, ternyata banyak yang takjub dengan panorama pada segara anakan. Memang indah, luar biasa! Padahal masih ditenda terdiam meram. Teman-teman satu tenda keluar, tapi saya masih ingin melanjutkan tidur kembali dan ditenda, tidur, sendiri.
Sepertinya saya tertidur selama kurang dari setengah jam, lalu saya tidak mau kalah dengan semangat teman-teman dan langsung menyusul yang lainnya *sambil merem sempoyongan*
What the Hell???!?
pemandangan macam apa ini?!
indahnya gak waras. Dan masih setengah sadar melihatnya, mata langsung tertuju pada teman-teman lainnya. 'Say Hello' teman-teman. Bangun tidur, mata sembab, jalan belum bener udah diajak foto-foto dengan bertulisan diatas pasir.

Segara Anakan









lubang tebing karang
Sebenarnya mata ini dari awal tertuju pada tebing yang bolong yang menembus ke samudra hindia. Banyak
 air laut yang masuk pada dinding tebing yang bolong ini ke segara anakan. Gak perlu lama-lama saya mengajak berjalan teman saya untuk melihat lebih dekat ke dinding tebing tersebut. Namun, makin kesana air semakin kotor dan tak jernih lagi dan permukaan semakin mendalam. Langkah terhenti sejenak dan memaksa kami untuk mempertimbangkan lagi untuk kesana karena itu tebing batu karang dan kami gak memakai alas kaki saya rasa cukup bahaya untuk mendakinya. Dan memang di tebing tersebut ada tulisan berperingatan "BAHAYA".

Dan akhirnya kami banting stir berbalik badan dan kembali ke tepian. Teman-teman lainnya masih stand-by dengan kameranya silih berganti berfoto ria. Ya mau gak mau dengan tidak sengaja juga ikut bergabung, membuat bukti kenangan dengan kepingan foto untuk album agenda liburan. Yang terpenting view-nya bukan paras kita, ya gak? ya dong~

lubang tebing karang (tampak dekat)
Sudah cukup jeprat-jepretnya lalu kita kembali ke tenda, menyiapkan sarapan seadanya dan secukupnya. Oh iya kita sudah tidak punya sisa air lagi. Jadi buat traveler lain, bawalah air yang banyak ya!
Jangan seperti kita yang terus merepotkan tetangga sebelah, menghampiri tenda sebelah lalu meminta sedikit air. Tetapi, tradisi minta-meminta disini adalah hal yang lumrah. Disini diharapkan tidak ada egoisme karena disini kita harus belajar menghargai hidup dan menghargai apa yang kita punya agar dapat merasai manfaat sesuatu yang kita punya. Ternyata dari setetes air kita banyak belajar begitu berharganya air jikalau kita sedang dalam kondisi seperti ini sedangkan kalau tidak pada kondisi seperti ini, begitu banyak air yang tidak kita manfaatkan dengan baik dalam keseharian kita. Dan ini masih di tepian lautan, belum dalam perjalanan ke pelosok hutan. Suatu kejadian di tengah perjalanan pulang kami harus berbagi kurang dari setengah gelas aqua untuk 8 orang, dan itu sangat berarti untuk kami.
setetes air hujan pun kami terus manfaatkan melihat keterbatasan persediaan air sudah tidak ada lagi.
Itu hanya sebagian contoh kecil saja.

Lanjut cerita setelah sarapan.
Kami langsung menaiki tebing yang dibaliknya ada samudra hindia tersebut. Entah gimana saya harus menjelaskan ciptaan yang Maha Kuasa tersebut, Pesona lautan lepas samudera hindia bersandar pada tebing-tebing karang mampu mempercantik sebuah pulau kecil dengan sedikit bias cahaya mentari pagi yang menuntun kami untuk terus menikmati kuasa-Mu, yaa Allah..


Lautan lepas Samudera Hindia
Lautan lepas Samudera Hindia

Rasanya tak ingin meninggalkan pulau ini dengan cepat. Mau gimana lagi, air aja kita tidak punya apalagi mau nambah sehari lagi disini.
Jadi intinya yang kurang disini itu adalah pasangan hidup. *eh
Banyak sekali momen-momen pembelajaran bukan sekedar kata "Liburan" saja. Saling berbagi dan mengasihi adalah  kunci suatu kebersamaan dalam menempuh sebuah tujuan untuk terus dijalani. Bagaimana tidak, kita hidup itu saling membutuhkan satu sama lain, bahu-membahu membantu yang membutuhkan, dan begitulah timbal baliknya.
Entahlah apa nama tebing ini yang kiblatnya pada samudera hindia didepan kita, jika dilihat ke belakang ada pemandangan segara anakan. pokoknya ini luar biasa menakjubkan!!
Tinggal pilih mana yang jadi selera anda, danau segara anakan ataukah lautan lepas samudera hindia. Pokoknya keduanya, keren abislah!!
makin keren lagi klo ada pasangan hidup-Nya sih *eh .


Sudah puas menikmati keindahan diantara keduanya, kamipun putuskan turun ke segara anakan. Mengapa? Ya  karena gak turun di lautan lepas samudera hindia. (Re: turun ke camp)
terlihat camp dari atas tebing

Balik ketenda lalu beres-beres barang-barang, beres-beres tenda sebelum kita bermandi ria di danau segara anakan. Menyegarkan badan dan hati deh pokoknya, mandi bersama panorama keindahan tiada tara, semacam pemandian alam persinggahan bidadari yang sangat private. Patut dijaga keindahannya ini, harus dan diwajibkan! Semoga keindahannya akan tetap sama hingga masa mendatang. Dan sudah waktunya kami pulang. Seperti biasa saya pun berada di barisan paling belakang karena saya bersama 3 teman saya tidak memakai alas kaki sehelai pun sehingga  memperlambat jalan kami untuk bisa lebih jalan lebih cepat itu mustahil, melihat medan perjalanan yang penuh lumpur dan licin. Maklumlah musim hujan.

Saya, erwin, septian, khairul, annisa, bayu, heri dan tirto. Inilah formasi paling belakang yang terpisah dari rombongan depan karena kami berjalan paling lambat karena keterbatasan tenaga dan perlengkapan serta air. Tapi kami sangat menikmati perjalanan pulang walaupun sangat lelah namun disinilah tantangannya. Rombongan terakhir dengan segala keterbatasannya harus bisa seperti rombongan yang paling depan. Barisan belakang lebih terasa feel-nya #katateman .

Dan akhirnya sedikit lagi melihat tanda-tanda bahwa kami akan mengakhiri perjalanan ini, deburan ombak dan suara adzan dilanjut khotbah jumat yang samar terdengar dan seketika turunlah hujan yang menyelamatkan kami dari kehausan. Kami membuka mulut kami lebar-lebar seolah menadah sumber mata air. Menjilat daun-daun yang banyak mengandung air.  Lumayanlah sedikit membasahi lidah dan tenggorokan. Dengan secerca semangat ditambah doa, akhirnya kamipun sampai ditepi pantai dan kapalpun sudah sangat siap mengantarkan kami menyebrang menyusul dengan yang lainnya.

Setelah menyeberang dengan basah kuyup dikarenakan bersih-bilas sebelum berlayar kami langsung buru-buru mencari kamar mandi, melihat keadaan perihatin kita seperti gembel ibukota yang lupa cara bagaimana membersihkan diri. Langsung saja, byur! Byur! Dan cukup bayar 3000 seorang gembel berubah layaknya seorang anak emas kembali. Hehe!

Dan setelah itu, terdengar kabar kalau mobil sewaan yang kita gunakan kuncinya tertinggal didalam setelah teman saya hasan dan septian membereskan barang-barang bawaannya. Panik! ya pasti apalagi kita berada jauh dari mana-mana. Minta bantuan dari mana lagi, tukang duplikat kunci yang konon katanya ada dipasar tetapi pasar itu jauhnya bukan main-main kalau kita bermain dengan jarak.
Jalan keluarnya kami dapatkan dengan berbincang-bincang dengan penduduk disitu, maka keluarlah akal seperti hal-nya maling membobol kunci mobil dengan berbagai cara yang kita sedikit mencuri tekniknya sebagai bahan pembelajaran nanti ketika dalam keaadaan darurat, ingat darurat saja!
voilaa.. terbuka! Rasa lega dan senang pun ada seketika, ucapan terima kasih pun kami rasa tidak cukup dengan sedikit negosiasi menentukan upah yang layak untuk diberikan, sepakat dengan lembaran biru kertas memberikan kesan "biar sama-sama enak" dan "saling tolong-menolong" SELESAI. kita langsung beranjak ke rumah persinggahan dimana kita menaruh sebagian barang disana dan dapat santai sejenak dengan suguhan cemilan sederhana dari pemilik rumah yang super welcome!

Menurut saya proses perjalanan disinilah yang menjadi point utama saya, segara anakan itu saya anggap sebagai bonus saja. dari sebuah proses perjalananlah kita dapat merasakan kesenangan dan kesusahan bersama-sama, saling menolong-saling berbagi. kebersamaan itu begitu indah dan alam begitu baik mengajarkan kepada kita cara seperti itu.

Kita atas nama UNJ Akun berterima kasih sekali kepada UNJ Pariwisata karena kalau tidak ada kalian, kita tidak akan tahu perjalanan sempu yang kita tempuh seperti apa dan saya rasa tidak akan jadi kalau tidak ketemu UNJ Pariwisata.


                                             
                                                 SALAM THE BRONIST !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar