Gunung Bromo
Pokoknya harus jadi kesini dan wajib, bagaimanapun caranya
itu. Sampai-sampai yang gak setuju beberapa dari kami pun gak mengetahui
kalau nanti akan pergi ke Bromo, demi kelancaran pergi kesana, kami banyak
menyiasati mereka. Soalnya kami yang setuju ke Bromo, ingin kalian ikut bersama
kami juga, biar kebersamaannya ada dan yang terpenting kita ada dalam satu
cerita buat kelak diceritakan anak dan cucu masing-masing. Maaf ya kalian. Hihi..
Sehari setelah dari Jatim Park 2 (Batu Secret Zoo) kami
berencana untuk pergi jalan-jalan ke kota malang sambil nyari oleh-oleh,
rencananya sih dengan sedikit siasat-siasat bodoh. Tapi yang mau beli oleh-oleh
itu rombongan cewek-cewek yang akan pulang lebih awal dari kami (rombongan
cowok). Kami beres-beres penginapan lalu menyiapkan peralatan tempur untuk di
Bromo, gak lupa kami menyarankan untuk teman-teman yang gak tau rencana klo
hari itu mau ke Bromo untuk membawa jaket, sepatu DLL. Mungkin mereka sedikit
curiga gak sih kenapa harus bawa seperti itu, wong kita Cuma mau jalan-jalan
biasa ke kota malang sambil nyari oleh-oleh doang.
Muter-muter kota malang sambil menghafal jalan di Malang,
mencoba dapat gelar “Anak Malang” untuk sementara, yang nantinya pada hari
terakhir saya bisa jalan-jalan sendiri sambil cari kulineran. Jalanan dikota
malang, mudah dihafal dibanding menghafal jalanan kota metropolitan. Setelah
muter-muter sampe pusing dipusat kota, perut pun sudah minta diisi. Kami pun
mencari tempat makan searah Bromo biar setelah makan bisa langsung minggat
kesana. Seperti biasa kami mencari tempat makan yang low budget, yang penting
perut bisa puas terisi kalau bisa besok gak usah sarapan lagi, yakali haha..
Kami dapatkan tempat makan yang murah bahkan ada live
music-nya, ada satu gitar dan keyboard serta yang pasti microphone. Dan
dimainkan oleh satu keluarga pemilik rumah makan tersebut. Dengan formasi,
bapak sebagai vokalis, anak laki sebagai gitaris dan anak perempuan sebagai
keyboardist. Oh iya ada satu lagi yang terpenting ketika mampir ditempat makan,
yaitu colokan. Lumayan kan gak cuima perut aja yang diisi bahkan HP juga dengan
manjannya minta diisi buat bekal di Bromo. Kami sengaja berlama-lama sejenak
setelah makan sambil menunggu baterai hape penuh. Gak tau kenapa temen saya
bisa-bisanya menggantikan tuan rumah tempat makan tersebut, sehingga kami
diizinkan memainkan beberapa lagu. “Wah
semacacam suatu kehormatan buat kami nih!”. semoga pengunjung lain gak
keganggu sama kekacauan kami pada waktu itu. Merasa gak enak berlama-lama
ditempat makan tersebut kami memutuskan sebelum maghrib kami sudah harus
meninggalkan tempat itu. Dan tidak lupa Bayar dan mengucapkan terimakasih
sebanyak-banyaknya, udah banyak difasilitasi, makan, live music, colokan,
toilet, DLL. Kami puas! Bromo we’ll
coming!
Sebenarnya teman saya ini masih belom tau kalau sekarang ini
sedang on the way ke Bromo, tapi seiring perjalanan kami mencoba untuk memberi
tau kalau perjalaanan ini gak cuma sekedar muter-muter kota malang saja, malah
temen saya ini dijalan malah ngajakin ke BNS (Batu Spectacular Night) semacam
objek wisata pasar malam yang difasilitasi wahana-wahana seru, tempat makan,
tempat membeli oleh-oleh, DLL. Night Spectacular ( BNS )juga menyiapkan beberapa wahana yang unik yang rugi kalau dilewatkan seperti
lampion garden, galeri hantu, cinema empat dimensi, sirkuit go kart terpanjang,
layar sepanjang 50 meter di area food court, dan air mancur menari.
Liburan tahun lalu, saya memang sudah pernah ke BNS, jadi
udah gak asing lagi kalau diajak main lagi di kota Batu, Malang. waktu itu
saudara saya mengajak liburan ke Surabaya dan beruntung semua serba dibiayai. Alhamdulillah yah..
Ngomong-ngomong soal wisata dikota Batu, nasib temen saya
yang mengajak ke BNS itu harus kecewa karena tidak tercapai keinginannya untuk
pergi kesana. Dan kami akhirnya jujur atas tujuan kita sekarang adalah Bromo.
Ya jadinya ada sedikit konflik deh didalam mobil kami. Enak banget konflik. Cihuuuyy! Piss ^o^v
Sorry malah melenceng jadi cerita tempat wisata lain, ya itu sekedar cerita berikut info saja kok.
Ternyata gak cuma masalah dimobil kami saja, tapi di masalah
GPS saya yang memandu perjalanan kami ke Bromo melalui rute pelosok-pelosok
perkampungan yang cuma bisa dilalui satu mobil saja. Melewati tengah sawah,
tanjakan berbatuan, dan jalanan yang super sepi. Sepertinya kami gak bisa hanya
terpaut pada GPS saja melihat trek yang kita lalui semakin tidak masuk akal.
Kami menyempatkan untuk selalu bertanya kepada warga setempat ketika kami mulai
hilang arah. Untung saja kami mendapatkan banyak orang yang ramah dan baik hati
untuk bertanya. Duh paniknya makin bertambah karena yang dikhawatirkan ketika
kami membawa seorang cewek-cewek. Lega itu ketika kami bisa melihat keramaian
atau juga udah dijalan beraspal alias jalan raya. Namun jalan raya aja sepi
banget, lirik kanan-kiri, depan-belakang saya pikir Cuma 2 mobil kami saja,
padahal bukan jam tengah malam melainkan baru jam 8-9. Tapi pikiran saja
sedikit lebih tenang dibanding jalan pelosok tadi, tapi tetap aja jalanan
disini memang sepi atau bagaimana sih? Jalurnya memang sudah benar, di GPS juga
menunjukan kebenaran kalau sudah dijalan raya kadang-kadang pintar juga. Lanjutkan!!!
Sampai di pos pemberhentian.
pertama untuk mengisi data rombongan kita berjumlah berapa atau kita sebut check-in. Disana langsung diserbu tukang jualan sarung tangan, scarf, kupluk dan perlengkapan perang pembasmi dingin lainnya. Karena kami cuma bermodal jaket saja, beberapa dari kami lantas membeli perlengkapan tersebut.
Disarankan bagi traveler lainnya diharapkan jangan meniru kami yang tanpa perlengkapan, untuk meminimumkan budget. Lumayan uangnya bisa diganti untuk makan yang hangat-hangat diatas, kan?.
Sampai di check point, tempat mobil kita diparkirkan karena kita tidak bisa melanjutkan ke penanjakan dengan mobil pribadi jadi harus menyewa jeep. Informasi penyewaan bisa di search sendiri, teman atau kerabat yang punya link. Tapi disana juga bisa langsung mencari dan menawar, tapi resikonya tidak tersedia jika sudah full booked, biasanya hari besar, weekend dan liburan panjang. Disana juga disediakan home stay jika kalian menempuh perjalanan jauh sehingga memaksa kalian untuk istirahat kalau datang kesorean bagi kalian yang ingin menikmati sunrise bisa istirahat dulu malamnya karena jeep mulai beroperasi pada jam 4 subuh.
Kami pada waktu itu sampai di parkiran sekitar jam 10/11 gitu, kesorean gitu datangnya, masih sepi gitu, bingung mau ngapain gitu, ya mending tidur aja menunggu subuh di mobil. Alangkah baiknya jika mengisi perut dahulu biar tidurnya bisa nyenyak. Diparkiran ada warung makan dan toko makanan, lumayan buat ganjel perut. Dingin itu bikin perut cepat berteriak! Pikir lagi deh kalau dingin- dingin perut kosong, kalau kata orang indonesia sih bisa masuk angin. Indonesia banget men!!
Ada sedikit cerita dengan bapak-bapak tua kalau kami diberitahu kalau rombongan kami datang kesorean, katanya sih akses jalan ke bromo terbilang rawan karena sepinya jalanan, jika ingin aman berangkat diatas jam 12 karena jalanan sudah mulai ramai dengan orang berangkat ke pasar DLL. percaya gak percaya sih?! Ambil aman ajalah..
view point (penanjakan)
Ceritanya saya udah tidur dan bangun-bangun jam setengah 4 dan berisik, benar saja parkiran rame banget kayak dipasar tumpah ditambah mobil jeep yang terparkir gagah. Memang benar kami datang kesorean, tapi bisa istirahat dulu sih. siap-siap untuk mencari jeep kita dan langsung menuju ke penanjakan. gak perlu lama bersiap-siap, langsung saja naik jeep dan menyiapkan uang untuk masuk ke area taman nasional selebihnya kita bebas kemana saja. sialnya ditengah perjalanan turun rintik-rintik hujan, pikiran menerka kalau nanti pasti gak kebagian melihat sunrise ditambah makin dinginnya suhu ketika di view point (penanjakan). suhu dingin bertambah berlipat-lipat rasanya di penanjakan, rasanya ingin menyewa jaket tebal yang ditawarkan penyewa jaket disana, 10 ribu untuk diarea penanjakan saja. sesampainya disana menunggu-menanti sang fajar menampakan sinarnya tapi gitu malah gak nongol-nongol tuh fajar! secercah cahaya saja kamipun senang berteriak-teriak, tapi gitu cuma sebentar doang, PHP!
Sampai di pos pemberhentian.
Disarankan bagi traveler
Sampai di check point,
Kami pada waktu itu sampai di
Ada sedikit cerita dengan
view point (penanjakan)
| gapura view point (penanjakan) berkabut sambil gerimis |
Kawah Bromo
sudahlah gak usah menaruh harapan banyak disana toh dengan cuaca yang begitu mustahil ngarepin sunrise dari si fajar. jadi kami putuskan untuk kembali ke jeep dan melanjutkan ke destinasi berikutnya menuju lautan pasir yang nantinya kita akan dibawa ke kawah bromo, bukit teletubbies, dan pasir berbisik. jadi ada 4 spot yang akan kita singgahi. sampailah kami ke spot kedua menuju kawah bromo, jeep berhenti terparkir bersama ramainya jeep-jeep lainnya. dan kami harus berjalan jauh untuk melihat kawah. ditengah perjalanan terlihat sebuah pura yang cantik terbalut kabut. setelah melewati pura, langkah pun terhenti ketika saya melihat toilet dan penjual baso. pilih mana? dua-duanya dong!
sudah lega dan puas, lanjut perjalanan yang mulai menanjak dan menurun treknya dan semakin terlihat sebuah tangga yang panjang menuju puncak bromo (kawah bromo). jumlah anak tangganya itu sekitar 250 sambil berpijak sambil berhitung dan sampailah. menaiki tangga yang sangat terjal dengan kemiringan kurang lebih 60-80 derajat dan tinggi berkisar antara 200-600 meter ternyata bukan hal yang mudah, terasa pegalnya. lumayan dah..
| tangga menuju kawah bromo |
tapi pegalnya kebayar semua ketika sampai dipuncaknya. bisa melihat kawah bromo, melihat pura dari atas puncak, melihat jeep pun mungkin sampai seperti melihat mainan, padahal mah gak kelihatan. Hehe..
belum puas melihat pemandangan itu malah turun hujan dan memaksa kami untuk langsung turun setelah berfoto-foto sebentar. pas sampai bawah malah hujannya berhenti, sial! siapa yang tahan kalau naik lagi.
Oh iya beberapa anak cewek ada yang tidak kuat untuk menuju ke kawah bromo setelah sampai pura mereka memutuskan untuk balik lagi ke jeep. dan sisanya memutuskan untuk menyewa kuda untuk sampai ke tangga penanjakan kawah bromo. kalian teteup luar biasa kok! hehe..
Pura Luhur Poten
| Pura Luhur Poten |
inilah salah satu budaya yang sampai saat kini masih terus dilakukan.
bukit teletubbies.
| bukit teletubbies |
Bukit Teletubbies, disebut demikian karena gundukan-gundukan bukit yang hijau, bersih dan rapi itu layaknya bukit rumput hijau di film anak-anak ”Teletubbies” yang dulu terkenal. rasanya enak sekali kalau berguling-guling disana menuruni bukit sambil berfoto ria. ditengah lautan pasir ada sesuatu terang kehijauan yang kontras terbias seperti lukisan, itulah bukit teletubbies.
Pasir Berbisik.
| Pasir Berbisik |
Pasir berbisik adalah padang lautan pasir yang luas membentang dan indah ditambah batu-batu karang menghiasi keindahan padang pasir. Dinamakan pasir berbisik sih katanya, dikala musim kemarau, pasir pasir disini berterbangan layaknya debu sampai menimbulkan suara yang mereka sebut berbisik itu. tapi sayang pas kami kesana tanahnya basah. Tak terasa dan belum puas akhirnya kami dengan cepat mengakhiri destinasi terakhir ini, dan foto terakhir di spot terakhir, lalu cabuuuuuutt!!!!!
Memang indah kualitas bromo, pesona alam dan budayanya masih kental melekat. kapan-kapan mungkin bisa mampir kembali pas musim kemarau biar ketemu sunrise, nikmati pemandangan deburan pasir beterbangan, and finally see you Bromo..~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar