Menunggu liburan semester 3, Saya dan teman-teman sekelas merencanakan berlibur ke Jogja. kami berenam, saya, djawa, jange, kuping, jenong, dan tompel. pemuda-pemuda yang selalu menemani acara liburan semesteran.
Transportasi ke Jogja masih menggunakan kereta lagi, yang beda dari sebelumnya dari sekarang yaitu sudah ada tumpangan buat kami tidur di kosan abangnya kuping yang kuliah di UNY. jadi kami gak perlu ngeluarin dana untuk sebuah penginapan lagi tapi buat kendaraan untuk jalan-jalan kami tetap menyewa mobil dan tanpa supir, karena abangnya kuping sebagai penunjuk arah. tapi untuk jalan-jalan seputaran kota jogja seperti malioboro dan sekitarnya kami mencapainya dengan naik TransYogya ataupun taksi untuk pada saat pulangnya, karena kami pulang malam ataupun pagi karena sudah gak ada TransYogya pada malam hari menjelang pagi. sedangkan untuk jalan-jalan seputaran Tugu Jogja-Malioboro-Kompleks Keraton kami memilih untuk jalan kaki ataupun becak.
CANDI PRAMBANAN
Esok harinya, rencana kami mau ke Candi Prambanan naik TransYogya dari kompleks UGM ke Prambanan. ke candi prambanan kali ini sedikit beda melihat arsitektur candi-candi pasca gempa gunung merapi beberapa tahun lalu. banyak yang rubuh serta rusak atas dampak gempa tersebut. tapi untuk candi utamanya tidak banyak yang mengalami kerusakan serta masih dilakukan renovasi pada saat kami kesana.



Menjelang maghrib, kami ke shelter TransYogya lagi ke Malioboro. menghabiskan malam sampai pagi disana. mencari keramaian dan hal-hal menarik untuk dijadikan sebuah momen.
Melintas di Malioboro, teman mulai goyah untuk langsung membeli souvenir/buah tangan padahal kami masih beberapa hari lagi disini, sepertinya mereka terlihat terburu-buru sekali. kalau saya memilih untuk diakhir-akhir menjelang pulang untuk berburu buah tangan karena males menenteng barang bawaan sambil jalan-jalan malam itu.
Menyingkir dari malioboro kami terus melangkah menuju Alun-alun Utara, Jogja. disana lagi ada pasar malam dengan banyaknya area permainan dan perbelanjaan serta penjual anekan jajanan.
Mampir ke alun-alun tetangganya utara, ada Alun-alun Selatan yang gak kalah ramenya. memainkan permainan tutup mata melewati dua beringin menjadi keseruan menikmati malam dengan canda tawa menyelesaikan misi yang terlihat mudah namun sulit untuk diselesaikan. alhasil, dari banyaknya percobaan gak ada satupun dari kami yang bisa finish menembus 2 beringin kembar ini.
ada juga aneka sepeda neon/odong-odong yang disewakan melintas seputaran alun-alun ini.
Hari semakin malam, kami berjalan menjauhi Alun-alun selatan untuk kembali ke Malioboro. karena kaki mulai lelah berjalan seharian, sebagian dari kami naik becak, tapi harus melewati proses nego-menego soal deal harga dulu sebelum naik. karena jika mahal dan tidak sesuai dengan kantong kami terpaksa batal. pokoknya 1 becak bertiga dengan mematok harga sekian ribu pokoknya harus mau. tapi tukang becak sempat gak mau dengan harga kesepakatan kami itu tapi pada waktu itu karena proses nego yang terbilang alot maka kami deal dengan mengambil jalan tengahnya aja pada proses negosiasinya. tapi disisi lain temen saya yang lain gak berhasil dalam negosisasinya sehingga terpaksa berjalan kaki kembali ke Malioboro. jalan kaki lagi nih ye pulang-pergi hehe..
Semua berkumpul di Titik Nol Yogyakarta. kami mulai hilang arah pada malam itu. mau pulang ke kosan abangnya kuping, tapi gak enak karena udah malam dan biar enak kami harus menunggu sampai subuh dulu. tapi gimana kelanjutan kami malam ini?
Dari Malioboro kami terus berjalan ke arah stasiun tugu, jalan-jalan mencari tanda-tanda kehidupan untuk sekedar mengulur-ulur waktu menunggu pagi. sepanjang jalan kenangan terasa semakin sepi, alhasil yang kami lintasi hanyalah ruko-ruko tutup dan keadaan jalanan yang sepi. sampai kaki lelah melangkah kami temukan mini market ditengah-tengah semua pertokoan yang sudah tutup. sekedar mengisi perut dan melepas dahaga. sepertinya kaki sudah mulai kelelahan melangkah dengan serangan ngantuk yang menyerang tiba-tiba.
Sekarang kami parkir di antara depan pertokoaan yang tutup dipinggir jalan arah Tugu Yogyakarta. duduk-duduk santai sambil menikmati jajanan. perlahan diantara kami dibuat menyerah pada malam. tidur diemperan toko-toko membuat kami merasa cuek, karena mungkin mereka udah terlalu lelah.beberapa dari kami gak semua merem, ada juga yang melek. dari tidur diposisi duduk sampai ada yang lama-kelamaan tiduran karena terlalu menikmati tidur nyenyaknya. sampai-sampai terpikirkan akal busuk dari kami untuk mengerjai teman saya ini yang lagi tidur dengan pulasnya, udah berasa rumah sendiri aja tidurnya nyenyak begitu. akhirnya kami tinggalin tuh orang sendirian tidur di depan toko. bersembunyi dibalik gang, sambil sedikit memantau orang itu. hari menjelang subuh pada waktu itu, orang-orang mulai berlalu-lalang sambil melihat teman kami itu yang lagi tidur nyenyak. sampai tukang sampah, tukang sapu yang menyapu persis didepannya pun dia tetap terlelap tidur. karena kami gak tega juga melihat teman kami ini menjadi perhatian orang-orang yang melewati toko itu akhirnya kami coba membangunkan teman kami ini dengan segemercik air dari balik tembok menuju gang agar tidak terlihat. dan akhirnya teman saya ini terbangun dari tidur nyenyaknya dan sedikit panik karena melihat keadaan sekitar yang tidak ada satupun diantara dia yang menemani. pikirnya dia ditinggal sendirian selama dia tidur oleh kami. tapi kami gak setega itu olehnya dan kami pun muncul dari tembok balik gang sambil tertawa terbahak-bahak. abang enak bang tidurnya nyenyak hahaha..
Dan gak lama kami memutuskan untuk pulang ketika mendengar suara adzan subuh, melihat shelter TransYogya yang belum beroperasi juga, kami jalan sambil mencari taksi untuk kembali ke kosan didaerah komplek UGM.
Agenda saya berlanjut untuk mengunjungi teman SMP, namanya Ebbo yang kuliah disalah satu universitas swasta di disini. cuma dialah temen saya yang berada di Jogja. Saya dan Jange numpang bermalam dirumahnya sambil bertemu kangen. kosannya masih dijalan Kaliurang gak jauh sekitaran kompleks UGM. berjalan kaki dari kosan menuju ke kosan, gang demi gang kami telusuri mengikuti arahan Ebbo ketitik pertemuan. dari malam sampai besok menjelang malam baru kami kembali ke habitat awal kami setelah puas temu-kangen sama temen saya ini.
Setelah kembali ke habitat, kami kembali merencanakan destinasi berikutnya kami disini. besok perencanaannya menyewa mobil untuk pergi ke daerah gunung kidul, yaitu ke pantai Baron, Kukup dan sundak. bersama pemandu jalan kami turgey bahasa lainnya tourguide begitulah kuping menyeploskan bahasanya yang membuat kami terbahak-bahak hehe..
Perjalanan yang kita tempuh, kira-kira 1 1/2 jam dan kami mulai jalan siang hari. pertama-tama kami mengunjungi pantai Baron karena merupakan rangkaian pertama dari pantai kukup dan sundak.
PANTAI BARON
Pantai ini terlihat banyak kapal kapal kayu nelayan yang bersandar. pantai ini juga mempunyai muara sungai bawah tanah. banyak juga terdapat aneka ikan laut segar dan hidangan seafood siap saji.
tapi sayangnya hari menjelang maghrib sehingga membuat kami untuk mengejar pantai-pantai lainnya.
Gak begitu jauh kami ke pantai berikutnya, yaitu pantai kukup.
PANTAI KUKUP
Pantai ini terletak 1 Km dari timur pantai baron, masih 1 garis pantai sama pantai baron, cuma terpisahkan oleh tebing-tebing. pantainya landai dan berpasir putih serta terdapat juga tebing yang sudah dikelola dengan membangun anak tangga untuk akses jalan keatas bukit yang terdapat suatu pendopo seperti halnya gardu pandang. kita bisa menikmati pemandangan dari atas melihat garis pantai yang terus tersapu ombak-ombak bersama deburan ombak yang menghantam tebing-tebing karang. dari atas sini juga terlihat sekilas pesisir pantai sundak.
Karena terlalu asik main air, menikmati pemandangan dari atas bukit serta mengabadikan foto-foto, kami seperti lupa waktu kalau kami masih mempunyai satu pantai lagi untuk dikunjungi, yaitu Pantai sundak. tapi karena hari mulai gelap perlahan menenggelamkan senja, kami memutuskan untuk tidak ke pantai sundak. karena waktu sudah habis akibat tenggelamnya senja. alhasil, kami hanya bisa menikmati pantai sundak dengan penglihatan terbatas dari atas bukit pantai kukup ini. Pantai Kukup ini banyak yang bilang seperti Tanah Lot-nya Bali.
Hari yang semakin gelap memulangkan kami untuk kembali ke kota Jogja. tapi kami gak langsung ke kota, melainkan kami melipir dulu ke bukit bintangnya jogja. melihat hamparan taburan lampu lampu kota bak berlian dengan binar-binar kilauannya, menikmati sesaat pemandangan lampu-lampu bagai jutaan bintang-bintang di langit yang cenderung kalah banyak dengan keadaan lampu-lampu kota disini. banyak berjejer warung makan, jagung bakar, wedang jahe dan yang bikin ramai lagi tempat disini yaitu spotnya orang memadu kasih dengan kekasihnya *mupeng*
Tidak lama dari sana kami mencari makan malam di sekitar jalan yang kami lewatin. mencari-cari tempat makan yang menarik dan menemukan menu makan yang belum kami cobain sebelumnya. lama mencari-cari dan bingung, atas saran turgey dia merekomendasikan rumah makan "SS" atau "Sambal Solo" atau juga "SS Sambal Solo". tempat makan dengan varian aneka sambal.
Setelah menghajar habis hidangan malam, kami jalan lagi gak tau mau kemana mencari cari tempat yang asik yang oke dan tidak menemukan ide akhirnya kami menggembel lagi di sekitaran Malioboro - Tugu Jogja dan malam dihabiskan dengan tidur di mobil yang di parkirkan di depan Circle-K di dekat Tugu Jogja. tapi tidak bagi saya dan jange yang tetap melek lontang-lantung sekitaran tugu jogja. karena kurang nyamannya tidur rame-rame didalam mobil, akhirnya saya berdua yang jaga mereka yang tidur dengan pulasnya. Rencananya nanti pagi pada mau ke Candi Borobudur. apalah raga ini tidak roboh gak ada tidurnya gak ada istirahatnya. tapi saya tetap jalan demi nikmati suasana kebersamaan walaupun bosan ke candi borobudur untuk ketiga kalinya. haha..
Sekitar jam 6 pagi kami berangkat dari kosan menuju ke Candi Borobudur. saya sempatkan untuk tidur di mobil. tidur singkat bikin pusing kepala badan serasa mau ambruk menahan langkah yang cenderung sempoyongan, sakit! sakit sakit nikmat perlahan terobati sama pemandangan candi dan panorama pemandangan alam yang megah disekitarannya membuat raga normal kembali.
Matahari hampir berada diatas kepala, siang bolong hampir memerahkan kulit, jam pengembalian mobil pun sudah hampir tiba. waktunya pulang sebelum telat. sebelum pulang kami menyempatkan makan dulu disini karena belum sempat sarapan dan sambil mencari oleh-oleh khas candi borobudur.
Sepertinya agenda setelah borobudur istirahat dikosan. tapi saya punya agenda lain, nobar bola dan nobar konser di malam hari. nobar bola di sebuah cafe di jalan babarsari lalu setelah selesai nobar lanjut ke Liquid nonton konser band. gak banyak memikirkan waktu istirahat disaat liburan yang hanya dipikirkan hanyalah terus berjalan mencari kesenangan di negeri orang ini. waktu istirahat hanyalah jika nanti berpulang dari negeri ini. (Kesenangan-Kepuasan-Kenangan)
Masih banyak lagi kisah-kisah perjalanan di Kota Gudeg ini yang akan terus menambah koleksi kenangan dalam perjalanan saya ini tunggu kisah-kisah berikutnya, yes! I'll be back..














Tidak ada komentar:
Posting Komentar